Selasa, 24 Februari 2009

Swasembada Beras Hanya "Isapan Jempol"



Selasa, 24 Februari 2009 13:08
Jakarta, NU Online
Keinginan Bulog untuk mengekspor beras 5-10 ribu ton per bulan, dipertanyakan. Faktanya, Indonesia masih mengimpor makanan pokok itu. hal ini berarti klaim swasembada dan keinginan ekspor hanyalah isapan jempol.

Demikian dinyatakan Mudrajat Kuntjoro, ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Mudrajat mempertanyakan swasembada beras pada 2008 yang diklaim pemerintah. Pasalnya hingga saat ini Indonesia masih mengimpor beras yang menunjukkan masih kekurangan.

“Kondisi riil parsediaan Pada beras di Indonesia tidaklah stabil. Artinya beras di Indonesia bahkan tidak dapat terjamin stoknya secara berkesinambungan. Buktinya kita masih selalu impor,” katanya di Jakarta, Senin (23/2).

Mudradjat mengharapkan agar pemerintah bersikap terbuka. Sebelum mengekspor beras, pemerintah harus memastikan apakah perberasan nasioanal benar-benar surplus atau defisit. ”Kalau swasembada beras, tapi ternyata impor berarti kan kurang berasnya,” tegasnya.

Namun demikian, Mudradjat mendukung ekspor beras jika sudah dipastikan bahwa Indonesia benar-benar surplus. Surplus tidaknya perberasan nasional harus diklarifikasi.

”Jangan-jangan data tahun lalu itu hanya bohong-bohongan. Wong nyatanya masih impor,” tandas Mudrajat. (min)

1 komentar:

  1. PERJUANGAN BUTUH KEYAKINAN – KESABARAN DAN KEBERANIAN

    # MUHAMMAD SAID. S.Ag
    # CALEG DPR RI PARTAI MATAHARI BANGSA (PMB) DAPIL GRESIK - LAMONGAN
    # Sebelum semua terjadi, mari kita sama2 introspeksi akan kekurangan dan keterbatasan kita masing2. Jangan pernah merasa paling pinter apalagi merasa paling benar sendiri. Segala sesuatu butuh penyelesaian yang arif dan memberikan solusi jitu dan "kepuasan" bagi semua. kita sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita, karena bagaimanapun juga Indonesia butuh pemimpin yang bermental MENGABDI UNTUK RAKYAT, memperjuangkan kepentingan RAKYAT dan benar2 bekerja
    menjalankan amanat RAKYAT, bukan untuk kepentingan sekelompok. Kalau kondisinya seperti ini terus kapan Indonesia akan bisa maju dan disegani oleh Bangsa Lain ???? zaman telah berubah. tantangan dan Issue global harus dapat kita jawab secara ilmiah. Mari kita bangkit !!!!!
    Rakyat butuh pemimpin yang mau peduli jeritan hati rakyat, bukan pemimpin
    yang “pinter” tapi minteri. Percayalah !!! masih ada jalan, jangan pernah menyerah sebelum bertarung dan jangan pernah skeptis banget dengan orang yang masih mau peduli dan punya niatan baik untuk berjuang ditengah2 morat-maritnya mental dan moralitas. Kalau semua ogah dan tidak peduli….justru ini akan menjadi kesempatan empuk bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan.

    BalasHapus